Jumat, 20 Maret 2015

MaternMom Goes To School 2

Hallo mommy dan ayah :)
Mommin membawa kabar terbaru dari program MaternMom Goes to School. Bagi yang belum tahu, maternmom goes to school adalah program edukasi kesehatan reproduksi dengan sasaran orang tua atau siswa dari TK hingga SMA. Kegiatan ini pertama kali diadakan di TK Amirul Amin (baca liputannya disini). Beberapa hari setelah kegiatan tersebut, Mommin mendapat tawaran untuk mengadakan kegiatan yang sama di TK Dharma Wanita 4. Kesempatan ini digunakan untuk menyempurnakan penyajian pendidikan kesehatan menjadi lebih menarik sehingga lebih mudah dipahami.

Persiapan infografik, video dan powerpoint sudah disiapkan sejak jauh hari. Persiapan alat berupa LCD awalnya agak menemui kesulitan, tapi kami percaya niat baik akan dimudahkan. Benar saja, H-1 ada pihak yang mau meminjamkan LCD kepada MaternMom. Persiapan yang tidak kalah penting adalah persiapan Mommin dan Volunteer. Karena tanggal pelaksanaan yang termasuk dalam hari aktif, banyak mommin dan volunteer yang berhalangan hadir. Beruntung MaternMom kedatangan volunteer baru Kak Rina dan Kak Andri

Hari yang disepakati yaitu Jumat, 27 Maret 2015 akhirnya tiba. Kami berkumpul di TK Dharma Wanita 4 jam 07.00 wib. Tema yang diangkat masih sama, yaitu melawan kekerasan seksual pada anak. Tema ini dianggap masih relevan karena berdasarkan pengamatan Mommin yang tinggal di daerah sekitar TK tersebut, beberapa kebiasaan anak-anak kurang mendukung perilindungan terhadap kekerrasan seksual.

Rabu, 25 Februari 2015

Launching MaternMom Goes To School

Hallo mommy dan ayah :)
Tidak terasa, maternmom sudah berjalan lebih dari 6 bulan. Selama 6 bulan terakhir Maternmom telah secara konsisten melakukan pendidikan kesehatan / diseminasi informasi kesehatan melalui media sosial twitter dan website. Untuk dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas maternmom berupaya untuk dapat memberikan pendidikan kesehatan dengan metode tatap muka. Metode tatap muka dianggap bisa lebih mudah dipahami serta dapat menjangkau mommy yang tidak menggunakan internet dan sosial media. Maka lahirlah program Maternmom Goes to School. Maternmom Goes to school adalah program edukasi kesehatan reproduksi dengan sasaran orang tua atau siswa dari TK hingga SMA.

Tanggal 6 Februari 2015 Maternmom Goes To School yang pertama dilaksanakan. Acara ini diadakan di TK Amirul Amin Kabupaten Jember dengan tema Lawan Kekerasan Seksual Pada Anak. Mommin disini tidak sendiri, kita mendapat bantuan dari 3 volunteer, kak  Febrina Artha, Deasy Dwi dan Mirza Idhoful.

Mommin dan para volunteer berkumpul jam 7 pagi di TK Amirul Amin. Kami disambut baik oleh guru dan komite TK. Jam setengah delapan bel masuk berbunyi. Adik-adik yang lucu berbaris dan senam pagi lalu dilanjutkan jalan santai. Setelah itu, orang tua pun berkumpul di salah satu kelas dan acara pendidikan kesehatanpun dimulai. Acara ini diikuti sekitar 30 wali murid

Sabtu, 24 Januari 2015

MELINDUNGI SI KECIL DARI KEKERASAN SEKSUAL

Oleh : Rosaning Harum Mediansari

Masih ingatkah Mommy dengan kasus Jakarta International School awal tahun lalu? Kasus tersebut hanyalah sebagian kecil kasus kekerasan seksual pada anak. Dari data yang berhasil dirangkum Harian Terbit, berdasarkan catatan Komnas PA Januari-April 2014, terdapat 342 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Data Polri 2014, mencatat ada 697 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di separuh tahun 2014. Dari jumlah itu, sudah 726 orang yang ditangkap dengan jumlah korban mencapai 859 orang. Sedangkan data KPAI dari bulan Januari hingga April 2014, terdapat 622 laporan kasus kekerasan terhadap anak. Sungguh angka yang sangat memprihatinkan. Lalu apakah Mommy yakin anak, keponakan, dan kerabat mommy pasti terhindar dari kekerasan seksual pada anak?

Sebelum membahas lebih jauh, kita perjelas dulu, apa yang dimaksud kekerasan seksual pada anak? Kekerasan seksual pada anak mengacu pada kegiatan melibatkan anak dalam kegiatan seksual, sementara anak tidak sepenuhnya memahami atau tidak mampu memberi persetujuan. Aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain, bertujuan untuk mendapatkan kepuasan bagi pelaku. Kekerasan seksual pada anak memiliki meliputi berbagai macam bentuk tindakan, antara lain :
  •  Menyentuh tubuh anak secara seksual (Molestase), baik si anak memakai pakaian atau tidak
  • Segala bentuk penetrasi seks, termasuk penetrasi ke mulut anak menggunakan benda atau anggota tubuh.
  • Memaksa anak untuk memegang bagian tubuhnya sendiri, bagian tubuh pelaku atau bagian tubuh orang lain.
  • Pelaku mempertunjukkan bagian tubuhnya secara cabul pada anak (Ekshibisionisme).
  • Secara sengaja melakukan aktivitas seksual di hadapan anak, atau tidak melindungi dan mencegah anak menyaksikan aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.
  • Membuat, mendistribusikan dan menampilkan gambar atau film yang mengandung adegan anak-anak dalam pose atau tindakan tidak senonoh ataupun adegan tersamar yang memancing pemikiran seksual (pornografi).
  • Memperlihatkan kepada anak, gambar, foto atau film yang menampilkan aktivitas seksual.
  • Melakukan percakapan bermuatan seksual dengan anak baik secara lugas maupun tersamar melalui telepon, chatting, sms dan lain-lain.

Sabtu, 10 Januari 2015

Mengenal Waterbirth untuk persalinan Nyaman dan Menyenangkan

Masturoh Widuri Sinta

Era globalisasi menuntut manusia untuk berinovasi dan menciptakan pembaharuan melalui perbaikan dan perkembangan penemuan sebelumnya. Begitu pula dengan ilmu kesehatan maternitas yang selalu berkembang di area kesehatan ibu saat pra kehamilan sampai persalinan. Perkembangan ilmu terus berlangsung untuk menciptakan pelayanan yang dapat meningkatkan kenyamanan pada ibu saat masa kehamilan maupun proses persalinan. Dulu, Ibu hanya mempunyai pilihan melahirkan melalui vagina, namun seiring dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan obstetri muncullah istilah caesar. Semakin lama, semakin banyak cara untuk membuat ibu senyaman mungkin dalam menjalani proses persalinan. Sehingga banyak modifikasi dalam persalinan normal yang dapat dipilih ibu. Salah satunya adalah waterbirth (persalinan di dalam air).

Sebenarnya, waterbirth bukanlah hal yang benar-benar baru karena penelitian mengenai waterbirth telah dilakukan oleh Harper pada tahun 1994. Waterbirth adalah persalinan yang dilakukan di dalam air hangat dengan tujuan meredakan nyeri persalinan dan membuat ibu lebih rileks. Waterbirth dimulai ketika fase aktif yaitu pada pembukaan 4-7 (Lowdermilk, 2014). Di Indonesia, waterbirth masih jarang dilakukan. Selain pemerintah belum melegalkan praktik waterbirth, banyak ibu yang belum memahami jenis persalinan melalui waterbirth.

Proses melahirkan melalui waterbirth perlu dipahami oleh Mommy dan Ayah sebelum kita membahas kekurangan dan kelebihan. Berikut merupakan cuplikan proses waterbirth sehingga Mommy dan Ayah mampu membayangkan bagaimana keuntungan dan kerugian dari waterbirth. Klik Video ini  yang penulis ambil dari website babycenter.com

Bagaimana bayi bernapas setelah dilahirkan dalam air? Bayi yang dilahirkan dalam air mempunyai waktu lebih lama untuk beradaptasi melakukan napas pertama karena seluruh tubuhnya terekspos dengan air. Menilai APGAR skor pada bayi yang dilahirkan melalui waterbirth adalah pada 1 menit 30 detik. Meskipun bayi yang dilahirkan akan terlihat biru lebih lama dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dalam kondisi kering, kekuatan dan irama jantung tetap baik. Bayi yang dilahirkan akan muali bernapas ketika sudah keluar. Hal ini terjadi disebabkan oleh adanya mekanisme untuk menghambat tekanan di dalam paru-paru untuk menstimulasi bayi bernapas. Harper (1994) juga mengatakan bahwa laporan kejadian mengenai bayi meninggal akibat aspirasi ketika dilakukan waterbirth tidak valid. Bayi yang lahir bukan mengalami aspirasi, melainkan asphyxiation karena bayi terlalu lama berada di dalam air setelah seluruh anggota badannya keluar dari organ tubuh ibu. Asphyxiation adalah kondisi kekurangan oksigen dan kelebihan karbondioksida dalam tubuh yang disebabkan interupsi pernapasan. Penyebabnya plasenta sudah tidak lagi mengirim oksigen kepada bayi, sama halnya ketika plasenta lebih dulu terlepas dari dinding rahim sebelum bayi dilahirkan secara sempurna. Tetapi bukan berarti bayi diangkat secara cepat, hal ini akan menyebabkan trauma pada bayi. Pengangkatan bayi harus dilakukan dengan pelan dan gentle (Harper, 2000; 1997; 1994).

Sabtu, 20 Desember 2014

Stem cell: Darah Tali Pusat untuk Investasi si Kecil


Stem cell: Darah Tali Pusat untuk Investasi si Kecil
oleh Faiqa Himma Emalia

Selama satu dekade terakhir, penyimpanan darah tali pusat di bank stem cell semakin marak dilakukan oleh keluarga kalangan ekonomi menengah ke atas. Sebelum bank stem cell berdiri di Indonesia, ada saja orang tua yang rela merogoh biaya tinggi per bulan untuk menyimpan darah tali pusat anaknya di bank stem cell Singapura. Seiring dengan berkembanganya ilmu dan teknologi di Indonesia, kini akses bank stem cell semakin mudah. Orang tua tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menyimpan darah tali pusat anaknya. Sebenarnya, apa itu stem cell? Apa hubungannya dengan darah tali pusat? Dan mengapa ia harus disimpan? Mari kita telusuri lebih dalam melalui artikel ini.


Stem cell ditemukan oleh Owen pada tahun 1945 ketika ia menemukan blood chimerism1 yang bertahan lama dari sapi kembar. Ekperimen ini kemudian semakin dikembangkan oleh ilmuwan menggunakan hewan percobaan lain sehingga penelitian stem cell saat ini telah lama diujicobakan pada manusia. Stem cell sendiri adalah sel tertentu dalam tubuh individu yang memiliki kemampuan memperbanyak/membelah diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai macam tipe sel (Cogle, Guthrie, Sanders, Allen, Scott, dan Petersen, 2003). Referensi lain mengatakan bahwa stem cell merupakan sel unik yang memiliki dua karakteristik: pertama, stem cell merupakan sel yang tidak terspesialisasi dan punya kemampuan memperbaharui diri melalui pembelahan sel−−biasanya dalam waktu yang lama setelah inaktif. Kedua, di bawah kondisi fisiologis dan ekperimental, stem cell dapat diinduksi menjadi sel jaringan/organ yang spesifik dan memiliki fungsi tertentu (Hotkar dan Balinsky, 2011) .

Hotkar & Balinsky (2011) menyebutkan ada dua jenis stem cell, yaitu pluripotent dan multipotent. Pluripotent merupakan sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, sedangkan multipotent adalah sel induk yang hanya dapat menjadi sebagian kecil jenis sel yang berbeda. Sedangkan klasifikasi stem cell menurut sumbernya antara lain human embryonic stem cell (hESC), non embryonic, somatic, atau adult stem cell, dan induced pluripotent stem cells (iPSCs) (Hotkar & Balinsky, 2011). Berikut penjelasan dari Hotkar & Balinsky (2011) mengenai masing-masing jenis stem cell:
1.      Human embryonic stem cell (hESC): Sel ini didapatkan pada embrio usia 5-8 hari, yang disebut blaktosit dan memiliki sekitar 150 sel. hESC juga bisa didapatkan dari ekstraksi morula2 yang terbentuk dari kumpulan 30 sel penyatuan zigot3. Sel ini telah terbukti tidak memiliki perbedaan morfologi4 dengan blaktosit dan memiliki hES cell specific markers5 yang sama. 
2.      Non embryonic, somatic, atau adult stem cell: Adult stem cell merupakan jenis sel yang dianggap tidak mengalami diferensiasi, namun ditemukan pada sel yang telah mengalami diferensiasi pada jaringan atau organ (National Institutes of Health [NIH], 2012). Stem cell jenis ini seringkali ditemukan pada anak-anak dan umbilical cord atau tali pusat. Selain pada anak-anak dan tali pusat, adult stem cell menurut NIH (2012) juga dapat ditemukan di beberapa organ, diantaranya otak, sumsum tulang, darah perifer7, pembuluh darah, otot skeletal, kulit, gigi, jantung, usus, hati, epitel ovarium, dan testis. Namun, secara keseluruhan stem cell jenis ini memiliki keterbatasan melakukan proliferasi6
3.      Induced pluripotent stem cells (iPSCs): Jenis sel ini mulai ditemukan pada akhir 2007 dimana ilmuwan berhasil mengidentifikasi kondisi yang meyebabkan sel pada manusia dewasa dapat mengalami spesialisasi melalui reprogram genetik sehingga memunculkan hasil seperti stem cell. Dapat disimpulkan bahwa iPSCs merupakan jenis stem cell yang berasal dari sel manusia dewasa yang direprogram secara genetik untuk menjadi sejenis stem cell embrio. 

Sabtu, 06 Desember 2014

PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN JANIN (I)



Oleh : Cita Mahdhah Arini


Kehamilan merupakan periode yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pasangan, terutama bagi pasangan muda. Hasil buah cinta dua insan ini tentu menjadi perhatian utama bagi calon orang tua. Bagaimana pertumbuhan bayi yang dikandung? Seperti apa bayi yang dikandung? Beberapa pertanyaan tersebut muncul seiring bertambahnya usia kehamilan ibu. Seperti apa pertumbuhan dan perkembangan janin dari minggu ke minggu? Mari kita telusuri lebih dalam!

Minggu ke-1 sampai 4
Pada 72 jam pertama, setelah sperma dan sel telur bertemu maka akan terjadi pembuahan yang akan menghasilkan benih. Benih ini biasa disebut zigot yang akan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Zigot akan membelah diri menjadi 32 sel dan sehari kemudian menjadi 72 sel hingga sampai 800 milyar atau lebih sel. Hingga pada hari ke 3-4 akan menempel pada dinding rahim dan terbentuklah plasenta dan tali pusat. Plasenta ini berfungsi untuk pemberian makanan kepada janin selama di dalam kandungan.
Pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat cepat. Sistem saraf, otak, perncernaan, pernafasan berkembang dengan cepat. Pada usia 6 minggu, jantung telah terbentuk sehingga detak jantung bayi dapat diketahui melalui Ultrasonografi (USG). Selain itu terjadi pembentukan hidung, dagu, rongga mulut dan tonjolan paru. Jari-jari pun telah terbentuk namun masih menggenggam. Penting sekali bagi Ibu mulai mengkonsumsi makanan yang bergizi seperti makanan yang kaya akan asam folat yang baik bagi perkembangan otak dan saraf janin, contohnya kacang-kacangan dan ikan. Sebenarnya, konsumsi makanan kaya asam folat lebih baik dimulai saat pra kehamilan, namun apabila ibu tidak mengetahui informasi ini, segera memulai untuk mengkonsumsi makanan yang kaya akan asam folat. Konsumsi makanan asam folat akan mencegah janin mengalami kerusakan pembentukan organ otak/saraf.  

Sabtu, 22 November 2014

MENGENALI DAN MENGHADAPI TEMPER TANTRUM

Oleh : Rosaning Harum Mediansari

Pernahkah Anda melihat, seorang balita yang tiba – tiba menangis atau berteriak sangat keras, sampai berguling-guling di lantai? Kemudian orang tuanya tidak punya pilihan lain selain memenuhi permintaan si balita, hanya agar si baita tidak membuat malu. Sikap balita seperti itulah yang disebut temper tantrum. Temper tantrum adalah luapan emosi anak yang meledak – ledak, bisa berupa kesedihan atau kemarahan. Tapi yang lebih umum, saat kita bicara temper tantrum yang dimaksud adalah kemarahan. Perilaku ini sering diikuti tingkah seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menendang, dan berbagai tindakan impulsif. Temper tantrum bersifat interaktif karena umumnya anak mengalami temper tantrum ketika bersama orang yang mereka kenal, karena sebenarnya anak membutuhkan respon atas perilakunya itu.

Temper tantrum merupakan masalah perilaku yang paling umum terjadi pada anak usia dini. Usia dua tahun sering dianggap sebagai usia yang paling sulit bagi orang tua. Beberapa penelitian menunjukan bahwa 50%-80% anak prasekolah rata-rata mengalami tantrum (Hayes, 2003). Jadi bisa dibilang, permasalahan temper tantrum adalah normal dan merupakan bagian dari tahap perkembangan anak. Beberapa penyebab temper tantrum yang dapat kita identifikasi diantaranya adalah :